Pengertian IUD (Intra Uterine Device) Post Plasenta

Pengertian

IUD post plasenta adalah IUD yang dipasang dalam waktu 10 menit setelah lepasnya plasenta pada persalinan pervaginam maupun persalinan dengan seksio sesarea (Saifuddin et al, 2006).
Dengan adanya teknik baru yaitu IUD Post Plasenta maka dapat memberikan harapan dan kesempatan bagi ibu yang tidak ingin hamil lagi. Bagi Indonesia dengan kesulitan hidup yang cukup tinggi (30% miskin), dan banyaknya unmet need (8,6%) maka teknologi ini perlu untuk ditawarkan kepada pasien post partum dengan cara memberikan konseling sebelum persalinan. Peningkatan penggunaan IUD Post Plasenta akan dapat mengurangi jumlah kehamilan yang tidak diinginkan dimasa depan, sehingga akan mengurangi angka kematian ibu di Indonesia (Saifuddin et al, 2006).

Jenis-Jenis Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Menurut Saifuddin (2010), jenis-jenis Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) terdiri atas :
  1. Lippes Loop
    IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Contoh yang banyak dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD jenis ini.
  2. Copper- TIUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD bentuk T yang baru. IUD ini melepaskan lenovorgegestrel dengan konsentrasi yang rendah selama minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.
  3. Copper- 7IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.
  4. Multi LoadIUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 (tiga) ukuran multi load yaitu standar, small (kecil), dan mini.
Saifuddin (2006) menyatakan bahwa AKDR yang umumnya digunakan dalam pemasangan IUD Post Plasenta adalah AKDR jenis Cu-T khususnya AKDR CuT-380A yang dimasukkan ke dalam fundus uteri dalam 10 menit setelah plasenta lahir. AKDR CuT-380A adalah IUD berukuran kecil, terbuat dari kerangka plastik yang fleksibel berbahan polyethylene, berbentuk huruf T, pada batang dan tiap-tiap lengannya dibungkus dengan kawat tembaga halus (Cu) yang mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. Dalam setiap batang plastik “T” terdapat 176 mg kawat tembaga (Cu) pada bagian vertikal, dan 66,5 mg tembaga pada bagian horizontal. Total luas permukaan tembaga adalah 380 mm2. Jangka waktu penggunaan IUD Copper T 380 A adalah 10 tahun, dan setelah 10 tahun AKDR tersebut harus dilepaskan namun dapat pula dilepaskan lebih awal sesuai dengan keinginan pasien (Varney et al, 2006).

Cara Kerja Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

AKDR atau IUD Post Plasenta langsung bekerja secara efektif segera setelah pemasangan selesai. AKDR bekerja dengan cara menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilitas sebelum ovum mencapai kavum uteri. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu (AKDR membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi), dan memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus (Saifuddin et al, 2010).

Efektivitas

Sebagai alat kontrasepsi, AKDR atau IUD Post Plasenta memiliki tingkat efektivitas yang tinggi yaitu 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan). Ini dapat pula diartikan bahwa angka kegagalan IUD Post Plasenta 0,8 % dibandingkan dengan pemasangan setelahnya (Saifuddin et al, 2010).

Pemantauan

Menurut Saifuddin (2010), pemantauan kondisi AKDR Post Plasenta dilakukan pada :
  1. Pemantauan dapat dilakukan 4 sampai 6 minggu setelah pemasangan AKDR.
  2. Pemantauan kondisi AKDR dapat pula dilakukan bila terdapat keluhan (nyeri,perdarahan, demam, dan sebagainya).
  3. Benang AKDR harus diperiksa secara runtin selama bulan pertama penggunaan AKDR terutama setelah haid.
  4. Pemantauan juga harus dilakukan apabila benang AKDR tidak teraba, merasakan bagian yang keras dari AKDR, AKDR terlepas, keluar cairan yang mencurigakan dari vagina, serta adanya infeksi.
Terima Kasih, Semoga bermanfaat

Semoga apa yang tersaji dalam blog ini bermanfaat. Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Silahkan jika ingin di sebarluaskan dengan mencantumkan sumbernya yaa :) terima kasih.

✖ Komentar dengan isi Link Aktif, Promosi, atau mengandung unsur Sara akan dihapus.

EmoticonEmoticon